Sabtu, 25 Februari 2012

FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN

1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agar penyampaian materi pelajaran dapat diterima dengan baik serta manarik bagi peserta manarik bagi peserta pendidikan dan pelatihan, tidak cukup dengan hanya memanfaatkan indera pendengaran saja. Tetapi sebaiknya juga memanfaatkan alat peraga yang bias dinikmati oleh indera penglihatan.
Ada beberapa macam media pembelajaran berupa alat bantu yang sangat praktis dan umumnya tersedia di kelas, yang mampu membuat suatu kegiatan pembelajaran mancapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Yaitu setelah berakhirnya pembelajaran menghasilkan perubahan tingkah laku atau hasil perbuatan yang memberi petunjuk bahwa suatu proses belajar telah berlangsung, atau pernyataan tentang apa yang harus dapat dilakukan peserta diklat atau tentang tingkah laku yang bagaimana yang diharapkan dari peserta diklat ia menyelesaikan program pembelajaran tertentu itu.
Namun hal-hal yang sangat idealis di atas tadi kemungkinan tidak bisa tercapai apabila cara penyampaian materi pelajaran tidak tepat. Meskipun materi pembelajaran menarik minat bagi peserta didik atau situasi dan lingkungan sangat mendukung semuanya bisa saja menemui kegagalan apabila cara penyampaian materi pelajaran tidak menarik.
Sangat banyak sekali cara-rara penyampaian materi pelajaran ini agar dapat diterima dan diingat dengan baik oleh peserta diklat. Salah satu cara yang sangat efektif ialah pemakaian alat Bantu media pembelajaran.
Pertanyaan kita mengapa harus menggunakan alat bantu pembelajaran ?
Menurut penyelidikan, daya serap pancaindera kita tidaklah sama.








Dari gambar ini kita bisa melihat bagaimana peranan masing-masing kelima indera manusia di dalam membantu proses seseorang untuk belajar. Dan kemampuan menerima pesan yang paling tinggi adalah indera pendengaran dan penglihatan. Dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa apabila penyampaian materi pelajaran lebih banyak memanfaatkan indera penglihatan akan diperoleh hasil yang paling tinggi apalagi kalau bisa memanfaatkan indera penglihatan dan dipadu dengan indera pendengaran secara berbarengan hasilnya tentunya akan lebih maksimal lagi.
Dalam hal media yang bisa menyampaikan informasi secara bersamaan berupa suara dan gambar disebut media Audiovisual.
Apabila kita memanfaatkan perangkat komputer dengan penayangan LCD proyektor maka media yang paling tepat adalah disebut Multi media. Yaitu menggabungkan bermacam-macam bentuk media menjadi satu kesatuan kinerja yang menyuguhkan tampilan yang baru serta ingteraktif.
Media dirancang agar pemakai bisa mengontrol dan merekayasa tampilannya bila perlu setiap saat atau kapan saja berbeda dengan media Audio Visual yang tidak mudah diubah-ubah sesuka hati tampilannya. Media-media itu adalah gambar/video, suara/video, grafis, animasi dan teks/tulisan. Dan merupakan suatu alternatif di dalam penyampaian informasi memakai sistem uraian lisan, yang akhirnya akan dicatat secara cermat untuk mencernakan fakta dan imajinasi agar mudah diingat.
Pengetahuan dan kemampuan menggunakan media pembelajaran sangat menunjang kelancaran penyampaian ilmu pengetahuan dan teknologi, oleh karenanya perlu dikuasai oleh para pengajar, baik widyaswara maupun dosen dan guru.

B. Deskripsi Singkat
Mata pelajaran pendidikan dan pelatihan ini membahas tentang jenis, manfaat, dan cara penggunaan media untuk mendukung kegiatan pembelajaran.Banyak sekali media pembelajaran yang bisa dimanfaatkan di dalam penyampaian materi agar lebih mencapai tujuan intruksional dengan maksimal. Namun kalau kurang tahu jenis-jenisnya maupun kelebihan dan keterbatasan setiap media tersebut tentunya hasilnya tidak akan seperti yang diharapkan.
Apalagi bila dikaitkan dengan metode yang dipakai pada saat penyampaian materi. Setiap metode mempunyai kekhasan sendiri dengan pemakaian media pembelajaran.
Oleh karena itu, untuk seorang pengajar ataupun widyaswara pengetahuan tentang bermacam-macam media pembelajaran, dengan kelebihan dan keterbatasannya serta cara menggunakannya adalah mutlak. Sebab peserta diklat yang dihadapi adalah orang dewasa dengan segala keberadaannya. Perlu menghadapinya dengan teknik Andragogi, beda dengan peserta didik seperti anak sekolah.






C. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan jenis dan manfaat media pembelajaran dengan baik dan benar.

D. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan mampu:
1. Menyebutkan jenis-jenis media pembelajaran.
2. menyebutkan manfaat masing-masing media pembelajaran.
3. menggunakan masing-masing media pembelajaran dengan baik dan benar.

2. MEDIA PEMBELAJARAN

A. Pengertian
Sebelum kita membahas mengenai jenis-jenis media pembelajaran ini, sebaiknya kita juga mengetahui lebih dahulu tentang pengertian istilah-istilah yang dipakai di dalam proses pembelajaran ini.
Istilah-istilah itu misalnya ”pembelajaran”, ”mengajar”, ”pengajaran”, ”pelajaran”, ”murid”, ”peserta”, ”metoda”, ”mengajar”, ”alat bantu mengajar” dan ”media pembelajaran”. Masing-masing mempunyai pengertian sebagai berikut :
1. Pembelajaran adalah usaha untuk menjadikan orang lain melakukan kegiatan belajar.
2. Mengajar adalah kegiatan untuk memberikan ilmu atau pengetahuan atau keterampilan kepada orang lain.
3. Pengajaran adalah perihal mengenai kegiatan mengajar.
4. Pelajaran adalah ilmu atau pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan.
5. Murid adalah orang, dewasa atau belum dewasa, yang diajar dan berada di bawah bimbingan pengajar atau guru.
6. Peserta adalah orang yang memikul kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik kelompok belajar, rapat, seminar, lokakarya maupun yang lain. Untuk menyatakan secara jelas, kata peserta dilengkapi dengan keterangan mengenai peserta apa.
Peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) adalah orang dewasa yang sedang mengikuti pendidikan yang lebih bersifat penjenjangan atau pelatihan. Walaupun demikian, pada bahan ajar ini digunakan kata peserta yang berarti peserta diklat.
7. Metoda mengajar adalah cara untuk melaksanakan pembelajaran atau cara untuk melaksanakan kegiatan mengajar. Metoda mengajar sering disebut juga metoda instruksional.
8. Alat bantu mengajar atau alat bantu pembelajaran adalah benda nyata yang digunakan untuk memperlancar proses mengajar agar materi yang diajarkan lebih mudah sampai pada peserta diklat sehingga cepat dimengerti. Beberapa alat bantu mengajar yang banyak digunakan antara lain adalah papan tulis, proyektor beserta transparan dan pengeras suara.
9. Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara atau penggemar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.

Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Assosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (AECT) di Amerika misalnya membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.
Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar. Hassan Shadily, Ensiklopedia Indonesia, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1987.
1. Media (latin medius = di tengah):
Sarana; bahan-bahan atau alat-alat ungkapan dalam suatu bidang seni; misalnya seni lukis: kanvas, cat, akrilik, crayon, pastel. Seni Patung : batu alam, pualam, perunggu, beton, kayu, semen, tanah liat dan lain-lain.
2. Media komunikasi massa (mass media):
Suatu lembaga organisasi yang kompleks, terdiri atas manusia, sarana-sarana material dan teknologi yang diarahkan untuk produksi dan penyebaran pesan-pesan komunikasi massa. Secara singkat: media untuk menyebarluaskan pesan-pesan kepada khayalak umum. Media massa meliputi: surat kabar, film, radio, poster, plakat, kain rentang (spanduk), dsb.
3. Medium (latin): yang tengah, penengah.
a. Medium dlam arti fisika adalah ruang yang berisi materi atau ruang hampa udara sebagai pembawa gejala-gejala fisik tertentu juga zat perantara itu sendiri.
b. Para psikologi mengartikan medium sebagai orang yang dipakai untuk percobaan dan penelitian di bidang para psikologi.
c. Spritisme : orang-orang dalam keadaan tertentu (setengah sadar) dipakai sebagai penghubung, dimana tubuh mereka untuk sementara waktu digunakan sebagai alat agar arwah-arwah orang yang telah meninggal (mereka yang hidup di alam lain) dapat menyatakan diri secara terbuka.
Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai (slide film), CD-Audio maupun CD-video adalah contohnya.
Agak berbeda dengan semua itu adalah batasan yang diberikan oleh Asosiasi Pendidikan Nasional (national Education Association/NEA). Dikatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun AudioVisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca.
Apapun batasan yang diberikan, ada persamaan-persamaan diantaranya yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

B. Perkembangan Media Pembelajaran
Kalau kita lihat perkembangannya, pada mulanya media dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, yaitu gambar, model, obyek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun sayang, karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan aspek desain, pengembangan pembelajaran (instruction) produksi dan evaluasinya.
Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke-20 alat visual untuk mengkonkritkan ajaran ini dilengkapi dengan digunakannya alat audio sehingga kita kenal adanya alat audio visual atau audio visual aids (AVA).
Bermacam peralatan digunakan pengajar untuk menyampaikan pesan ajaran kepada siswa melalui penglihatan dan pendengaran untuk menghindari verbalisme yang masih mungkin terjadi kalau hanya digunakan alat bantu visual semata.
Dalam usaha memanfaatkan media sebagai alat bantuini Edgar Dale mengadakan klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama kerucut pengalaman (cone of experience) Edgar Dale dan pada saat itu dianut secara luas dalam menentukan alat bantu ap yang paling sesuai untuk pengalaman belajar tertentu. (lihat gambar)
Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu, media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau informasi belajar. Sejak saat itu, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu pengajar saja, melainkan juga sebagai alat penyalur pesan atau media. Teori ini sangat penting dalam penggunaan media untuk kegiatan program-program pembelajaran.


















C. Proses Belajar Mengajar sebagai Proses Komunikasi





Seorang pengajar/widyaswara memberikan kesempatan kepada salah satu peserta diklat TOT-nya untuk menyampaikan instruksinya kepada sesama rekannya peserta diklat, untuk membuat sebuah gambar sederhana yang dipegangnya hanya dengan kata-kata oral/yang diucapkan tanpa memperhatikan gambar itu.
Penyampaian instruksi itu makan waktu cukup lama, dan meskipun diulang-ulang instruksinya tetap menimbulkan banyak pertanyaan. Dan sempat menimbulkan emosi. Setelah diperiksa dari keseluruhan peserta tidak ada satupun yang membuat dengan benar, yang mirip pun hanya separuh sedang sisanya salah sama sekali. Malahan membuat gambar yang bukan-bukan. Jika sipemberi instruksi/pengajar itu hanyamempertanyakan siapayang bodoh masih lebih baik dari pada telah memutuskan bahwa peserta diklatnya sebagai orang-orang yang bodoh.
Kesempatan menyampaikan informasi inipun dicoba diberikan kepada beberapa peserta yang lain, namun pada kenyataannya hasilnya pun tidak jauh berbeda.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya bisa pengajar, peserta diklat, orang lain ataupun penulis buku dan produser media; salurannya media pembelajaran dan penerima pesannya adalah peserta diklat atau juga pengajar.
Pesan berupa isi ajaran dan didikan yang ada di kurikulum dituangkan oleh pengajar/widyaswara atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal (kata-kata lisan maupun tertulis) maupun simbol non verbal atau visual. Proses penuangan pesan ke dalam simbol-simbol komunikasi itu disebut encoding. Selanjutnya penerima pesan (peserta diklat ataupun pengajar atau widyaswaranya sendiri) menafsirkan simbol-simbol komunikasi tersebut sehingga diperoleh pesan. Proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebut disebut decoding.
Ada kalanya penafsiran tersebut berhasil ada kalanya tidak. Penafsiran yang gagal atau kurang berhasil berarti kegagalan atau kekurangberhasilan dalam memahami apa-apa yang didengar dibaca, atau dilihat dan diamatinya.
Terlepas dari siapa yang bodoh dan siapa yang pintar, keadaan seperti inilah yang terjadi pada kasus di atas. Peserta diklat lain tidak atau kura ng berhasil meng-encode dan meng-decode pesan-pesan yang disampaikan.

Gambar Proses Komunikasi yang Gagal

Pada gambar diatas kita lihat kegagalan proses komunikasi tersebut. Pengajar/widyaswara menyampaikan pesan A, dari keempat peserta diklat hanya peserta diklat 1 yang tepat dalam menafsirkannya. Dua diantaranya kurang tepat A1 dan A2 sedangkan satu lainnya salah sama sekali.















Gambar Proses Komunikasi yang Berhasil

Pesan A yang disampaikan oleh pengajar/widyaswara maupun media dan sumber pesan ditafsirkan sebagai A pula oleh seluruh peserta diklat.
Atau mungkin juga pengajar/widyaswara tak banyak berperanan karena proses belajar mengajarnya terjadi dalam jarak jauh. Pada situasi seperti ini penulis buku, modul atau produser program-program audio, video maupun film merupakan sumber pesan. Siswa berinteraksi dengannya secara tak langsung lewat media-media yang mereka buat.






Gambar Proses Komunikasi Jarak Jauh


3. JENIS-JENIS DAN KARAKTERISTIK
MEDIA PEMBELAJARAN

Dalam pengertian teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem instruksional di samping pesan, orang, teknik latar dan peralatan. Pengertian media ini masinh sering dikacaukan dengan peralatan. Media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pembelajaran yang biasanya disajikan dengan menggunakan peralatan. Sedangkan peralatan atau perangkat keras (hardware) sendiri merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut (AECT, 1977). Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam khazanah pendidikan serta ilmu cetak-mencetak, tingkah laku (behaviorisme), komunikasi, dan laju perkembangan teknologi elektronik, media dalam perkembangan tampil dalam berbagai jenis format (modul cetak, film, televisi, film bingkai, film rangkai, program radio, video, komputer, dst) masing-masing dengan ciri-ciri dan kemampuannya sendiri. Dari sini kemudian timbul usaha-usaha penataannya, yaitu pengelompokan atau klasifikasi menurut kesamaan ciri atau karakeristiknya. Beberapa contoh usaha ke arah pengertian media tersebut antara lain:
a. Pengertian menurut Rudy Bretz. Bretz mengidentifikasi ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok yaitu suara, visual dan gerak. Visual sendiri dibedakan menjadi tiga yaitu gambar, garis (line graphic) dan simbol yang merupakan suatu tampilan dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indera penglihatan. Di samping itu Bretz juga membedakan antara media siar (telecommunication) dan media rekam (recording) sehingga terdapat 8 klasifikasi media:
1. media audio visual gerak,
2. media audio visual diam,
3. media audio semi-gerak,
4. media audio gerak,
5. media visual diam,
6. media semi-gerak,
7. media audio dan
8. media cetak.
b. Menurut Duncan : Semakin rumit jenis perangkat media yang dipakai semakin mahal biaya investasinya, semakin sulit pengadaannya, tetapi juga semakin umum penggunaannya dan semakin luas lingkup sasarannya. Sebaliknya, semakin sederhana perangkat media yang digunakan biayanya akan lebih murah, pengadaannya lebih mudah, sifat penggunaannya lebih khusus, namun lingkup sasarannya lebih terbatas.
c. Menurut Briggs. Lebih mengarah kepada karakteristik menurut rangsangan yang dapat ditimbulkannya daripada dari medianya sendiri, yaitu kesesuaian rangsangan tersebut dengan karakteristik peserta diklat. Briggs mengidentifikasikan 13 macam media yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar yaitu : objek, model, suara, langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film rangkai, film bingkai, televisi dan gambar.
d. Menurut Gagne. Tanpa menyebutkan jenis dari masing-masing medianya, Gagne membuat 7 macam pengelompokan media yaitu : benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara dan mesin belajar.
e. Menurut Schram (1977). Ada edia rumit dan mahal (big media) dan media sederhana dan murah (little media). Atau juga kelompok media massal, media kelompok dan media individual.
Dari semua nampaknya memang tidak pernah ada sistem pengelompokan yang sahih dan berlaku umum. Bagaimanapun, suatu pengelompokan, apa pun bentuk dan tujuannya dapat memperjelas perbedaan dalam fungsi dan kemampuannya. Hal ini sangat diperlukan dalam menentukan pilihan atas media.
Untuk tujuan-tujuan praktis, di bawah ini akan dibahas karakteristik beberapa jenis media yang lazim dipakai dalam kegiatan beajar mengajar khususnya di Indonesia.
4. KESIMPULAN
Media pembelajaran merupakan bagian penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah. Media akan lebih memudahkan guru dalam mengajar dan siswa dalam belajar sehingga proses komunikasi aktif dapat terjalin dengan baik antara guru dengan siswa.
Media pembelajaran dikelompokkan dalam empat jenisnya yaitu, media cetak, media dengar (audio), media pandang dengar (audio visual), media interaktif (interactive teching material).
Guru dalam mengembangkan media pembelajaran dapat memperoleh keuntungan sebagai hasil karyanya seperti, memiliki bahan yang dapat membantu melaksanakan tugasnya dalam mengajar, media pembelajaran yang disusun bisa diajukan untuk dinilai dapat menambah angka kredit guru untuk keperluan kenaikan pangkat, dan bisa menambahkan penghasilannya apabila hasil karyanya diterbitkan.
Bagi kepala sekolah, media pembelajaran sebagai alat untuk membantu dalam melakukan promosi ataupun presentasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan sekolah.
Bagi pengawas dan para pembina pendidikan lainnya, akan mendapat bekal dalam melaksanakan tugas pengawasan yaitu membina guru dalam mengembangkan media pembelajaran, sehingga pengetahuan media pembelajaran dapat digunakan untuk membantu guru yang mengalami kesulitan dalam kegiatan proses pembelajaran disekolah.

Selasa, 19 April 2011

Mayat Hidup Gegerkan Warga Bone

WATAMPONE, MP- Sebuah kabar mengenai pria yang tewas dan hidup kembali mengegerkan warga Desa Latellang, Kecamatan Patimpeng, Bone, Kamis (24/3/2011).
Hal tersebut juga membuat ratusan warga yang penasaran berkumpul di lokasi kejadian. Kabar mengenai orang yang bernafas kembali usai dimandikan dan dikafani tersebut bahkan tersebar hingga ke Kabupaten Sinjai.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Media Pendidikan, kejadian itu berawal saat seorang warga Kecamatan Patimpeng, A Hamza, menggali tanah di halaman rumah milik keluarganya untuk membuat sumur.
Korban yang menggali hingga kedalaman 13 meter sempat pingsan akibat diduga kekurangan oksigen.
Karena pingsan, rekan korban kemudian mencoba masuk sumur untuk mengangkat korban keluar dari lubang yang dibuatnya.


DAHSYAT ! Anak di bawah umur ini sering ML (ada fotonya)

Anda pasti terkejut jika melihat langsung tingkah laku anak yang satu ini.meski usianya masih di bawah umur,tapi dia sudah punya nafsu (maaf:ML) seperti orang dewasa 'dia sering banget ML'. bahkan ibunya juga pernah menjadi korban,malah tanpa merasa bersalah dia sering minta nambah.

Dahsyat memang ! Kebetulan aksi tersebut sempat terekam sama kamera oleh seorang tetangganya yang enggan disebutkan sumber identitasnya. Untuk lebih jelasnya lihat saja gambar anak ini yang begitu bernafsunya jika sedang ML.

Taman Bunga Bone Tempat Mejeng PSK

WATAMPONE, MP- Taman bunga Watampone di Kabupaten Bone, Sulsel, yang terletak di jantung kota beralih fungsi saat malam hari.
Jika sore hari dijadikan tempat rekreasi atau olahraga ringan, saat malam taman bunga berubah menjadi tempat transaksi seks.
Mulai dari waria hingga pekerja seks komersial kelas teri memenuhi taman yang diresmikan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin limpo sebagai taman edukasi.

Senin, 18 April 2011

Cara Membuat Read More Pada Blog

Sebelum cara ini ditemukan, para blogger masih pake cara lama untuk mnyembunyikan sebagian postingnya dan menampilkan tulisan read more di beranda blog mereka. Kita harus nyanyumin tag dan setiap kali kita posting di blog. Kalo menurut saya sih ini terlalu rumit, dan kita juga suka bingung mau ngebatesin artikel kita seperti apa. Malah di sebagian browser, tag read more seperti itu kadang2 suka berbeda, malah ada yang ga muncul tombol read morenya. Selain itu, masalah yang sering timbul yaitu javascript yang kadang2 ga bisa dibuka karena hostingnya sedang bermasalah. Pasti ga enak banget kan kalo masalah2 itu menimpa blog kita? Nah, saya punya solusinya nih! Kita ga harus nyantumin kode2 , dan gambar yang kita sisipkan di artikel bakal muncul di postingan kita paling atas! Contohnya seperti blog saya ini. Kita tinggal ngebiarin script yang ngejalanin semuanya buat kita. Tertarik kan? 


Minggu, 17 April 2011

UJIAN NASIONAL : SISWA BUTUH SUGESTI UNTUK PERCAYA DIRI

Oleh: A.Sarjan
Masa-masa terakhir ini, ujian nasional bagi siswa sudah dilaksanakan, mulai tingkat SLTA, SLTP, dan Sekolah Dasar (SD). Pada hakikatnya, ujian nasional tidak berbeda dengan ujian-ujian yang dilaksanakan oleh masing-masing sekolah. Keduanya adalah evaluasi pembelajaran. Perbedaannya hanya pada model soal yang bersifat nasional. Baik ujian sekolah maupun ujian nasional kedua-duanya mengacu pada kurikulum sekolah pada masing-masing jenjang pendidikan. Tetapi, mengapa ujian nasional itu menjadi momok bagi siswa, bahkan para guru dan orang tua?

Kadisdik Pantau UN


Kepala Dinas Pendidikan, Drs H Taswin Arifin berbincang dengan pengawas independen dari Unhas disela-sela pemantauan UN di SMAN 1 Watanpone.